Mengenal Kalender Hijriah: Sejarah, Hisab, Rukyat, dan Kriteria MABIMS
Sejarah kalender Hijriah, perbedaan metode hisab dan rukyat, kriteria MABIMS yang dipakai pemerintah Indonesia, dan mengapa awal Ramadan kadang berbeda.
Hampir setiap tahun muncul pertanyaan yang sama: mengapa awal Ramadan atau Idulfitri di Indonesia kadang berbeda antara pemerintah dan sebagian ormas? Jawabannya ada pada cara kalender Hijriah ditentukan.
Sejarah singkat
Kalender Hijriah mulai digunakan secara resmi pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, sekitar 17 tahun setelah hijrah. Para sahabat bermusyawarah dan sepakat menjadikan peristiwa hijrah Nabi ﷺ dari Makkah ke Madinah (622 M) sebagai awal perhitungan tahun, dan Muharram sebagai bulan pertama.
Kalender berbasis bulan
Berbeda dengan kalender Masehi yang mengikuti matahari, kalender Hijriah mengikuti peredaran bulan. Satu bulan Hijriah adalah waktu dari satu bulan baru ke bulan baru berikutnya, rata-rata 29,53 hari. Karena itu setiap bulan berumur 29 atau 30 hari, dan satu tahun berjumlah 354 atau 355 hari.
Allah berfirman: "Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji" (QS. Al-Baqarah: 189).
Rukyat: melihat hilal
Rukyatul hilal adalah pengamatan bulan sabit pertama setelah matahari terbenam pada tanggal 29. Dasarnya adalah hadis:
"Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah (berhari raya) karena melihatnya. Jika hilal tertutup awan, maka sempurnakanlah bilangan Sya'ban tiga puluh hari." (HR. Bukhari)
Jika hilal terlihat, esok harinya adalah tanggal 1 bulan baru. Jika tidak terlihat, bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).
Hisab: perhitungan astronomi
Hisab adalah perhitungan posisi bulan dan matahari secara astronomis. Dengan hisab, posisi hilal dapat diketahui jauh-jauh hari. Pertanyaannya, setinggi apa hilal harus berada agar bulan baru dianggap sudah dimulai? Di sinilah kriteria berbeda-beda.
Kriteria MABIMS
Pemerintah Indonesia bersama Brunei, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) sejak 2022 memakai kriteria baru, yaitu hilal dianggap memenuhi syarat bila:
- Tinggi hilal minimal 3 derajat, dan
- Elongasi (jarak sudut bulan dan matahari) minimal 6,4 derajat.
Kementerian Agama menggabungkan data hisab dengan laporan rukyat dari berbagai titik di Indonesia, lalu mengumumkan hasilnya melalui sidang isbat.
Mengapa bisa berbeda?
Perbedaan terjadi bila posisi hilal berada di "wilayah abu-abu". Misalnya, hilal sudah di atas ufuk tetapi tingginya belum mencapai 3 derajat. Organisasi yang memakai kriteria hisab dengan batas lebih rendah akan menetapkan bulan baru dimulai, sedangkan pemerintah dengan kriteria MABIMS menggenapkan bulan menjadi 30 hari. Hasilnya, ada selisih satu hari.
Perbedaan ini adalah ranah ijtihad. Majelis Ulama Indonesia menganjurkan umat Islam mengikuti ketetapan pemerintah demi persatuan, sambil tetap menghormati mereka yang berbeda.
Kalender Umm al-Qura
Arab Saudi memakai kalender Umm al-Qura untuk keperluan sipil, dan kalender ini banyak dipakai aplikasi serta perangkat lunak. Kalkulator konversi Hijriah di situs ini juga memakainya. Karena itu hasilnya bisa selisih satu hari dari kalender resmi Indonesia, terutama di sekitar awal bulan.
Kesimpulan
Perbedaan awal bulan Hijriah bukan karena salah hitung, melainkan karena perbedaan kriteria dan metode yang sama-sama memiliki dasar. Untuk keperluan sehari-hari, konversi otomatis sudah memadai. Untuk ibadah yang terikat tanggal, ikuti pengumuman resmi.